Kalo dibahasa Indonesiain ... Kesialan seseorang adalah keberuntungan orang lain. Atau kalo mau diartiin dengan bahasa yang lebih ekstrim, Musibah seseorang adalah Rejeki bagi orang lain. Mau contoh? Penggali kuburan, Petugas Kuburan, Tukang bunga sampe Supir Metro Mini. Kalo udah berpikir seperti ini, mau gak mau kita harus bilang " Tuhan itu adil yaa... "
Sama seperti yang baru aja saya alami hari ini. REncana mau tiba di kampus sore hari cuma jadi cita cita aja. Gimana enggak, Setelah nganterin Mamah n Adek muter muter kesana kemari, akhirnya baru bisa ke Stasiun Kota sekitar jam 6 sore. Lengkap dengan basahan gerimis yang sama sekali gak diundang, bikin rambut lepek dan keringat berlebih karena gerah. Jangan tanya penampilan, udah gak peduli juga. Yang penting sampe di kampus. Walau sebenernya dah telat juga n bingung harus ngapain nanti disana. Seperti biasa, Jakarta pasti NgeHang bin Ngadat kalo basah dikit. Gak cuma mobil aja yang macet, kereta pun ikutan macet. Jadwal kereta jadi berantakan karena kereta terlambat datang. Why? dont ask me. Dont wanna know anyway. Saya pikir, daripada saya gak jelas juntrungannya, mendingan sholat. Dah maghrib pula, N udah kewajiban juga sih. Selain bisa bikin sejuk badan, sangat ampuh untuk bikin sejuk hati n pikiran. Biar nanti gak maen gampar orang cuma gara gara mukanya gak enak diliat. Saya naik kereta kedua yang datang ke Stasiun Kota. Buat yang sering naik kereta pasti tau alasannya kenapa. Gak lain gak bukan karena yang pertama lebih penuh N lebih sesak (Kenapa .... Yaa karena kereta datengnya telat. Kan tadi dah dibilangin!!). Itu juga berarti resiko dicopet, dijambret, dirampok sampe digrepe grepe (Cowok juga berpotensi jadi korban grepean lho ... mending sama cewek, nah kalo cowok? Mending kalo ganteng ... LHO!!). Jujur yaa, kereta kedua sebenarnya gak terlalu lapang juga, tapi paling nggak masih bisa regangin kaki dikit, lampu keretanya masih nyala, tukang jualan masih bisa lewat (walaupun maksa banget. Alesannya ... butuh duit. Lah ... siapa yang gak butuh. Hare gennneee!!) n gak diketekin. MAaf yaa kalo kata katanya gak sopan, tapi menurut saya itu salah satu pelanggaran HAM yang agak sulit untuk diperkarain.
Anyway, kereta berangkat. LEga lah perasaan. Jalannya lambat tapi pasti ... pasti bikin telat, pasti bikin pegel, pasti bikin dongkol n pasti bikin mo buru buru sampe. Tapi ternyata eh ternyata sodara sodara yang dikasihi Tuhan ... Di Kalibata itu kereta Mogok. N it takes almost one hour untill the train moved again. The machine was still broken. So to moved the broken train, the other train had to pushed the train from behind. By the time we arrived in PAsar Minggu Station, we have to switched train. Apakah kereta selanjutnya penuh ... Well, U can guess lah. Untill I decided to take the last train to Bogor, which was -again - not too spacious, but better than the other train before it. Di Stasiun Pasar Minggu, penumpang sudah pasti menumpuk. Dan rencana orang orang yang mau pulang ke rumah mereka sudah pasti Gagal Total. Mereka sial (Mereka itu termasuk gue yaa!!) , Tapi kebanyakan dari para penjual makanan dan minuman di Stasiun Pasar Minggu mendapat rejeki yang sedikit lebih dari biasanya. Para penumpang yang kelelahan dan pastinya haus berat karena kegerahan yang tiada tara di dalam gerbong, membeli minuman yang mereka jual. Again, termasuk Gue!! Mereka pun keliatan begitu repot melayani beberapa pembeli yang memang mau dilayani secepat mungkin. Gak bisa dipungkiri, mereka pasti senang dengan kejadian ini. Gak mau nuduh kalo mereka rame rame berdo'a supayan kereta hari ini mogok jadi mereka bisa dapet rejeki lebih (berlebihan yaa). Pastinya KEsialan para penumpang kereta di hari ini adalah keberuntungan para penjual di Stasiun Pasar Minggu. See, Tuhan Memang Adil.
Tapi ... Keadilan bisa jadi hal yang rancu, bahkan semu bagi beberapa orang. Bagi mereka yang memang sudah dalam kesulitan, tapi ternyata masih ada kesulitan lain yang bertamu. Padahal mereka mendamba solusi. Tragis? Gak berani ngomong gitu juga. Pastinya sih, ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari kondisi seperti ini. Sabar lagi lagi harus digunakan sebagai pamungkas sekaligus pijakan. Dan salut buat orang orang yang masih bisa tersenyum dalam himpitan tragedi. Kalo ada yang kenal dengan orang yang seperti itu, tolong kenalin. Saya mau belajar banyak dari dia. Belajar menggunakan dan mengoptimalkan sabar. Lagi lagi persis seperti kejadian hari ini. Tadi saya, Mamah dan Adek pergi ke Pasar Baru. Di samping Bank Mandiri ada seorang penjual Soto dan penjual minuman botol. Tadinya lokasi mereka gak persis disitu, tapi karena di Pasar Baru mau dibangun Apartemen, jadilah posisi mereka digeser sedikit. Walhasil, mereka jadi kurang terekspose dari biasanya. Dampaknya ... yaa pendapatan. Orang jadi banyak yang gak engeh dengan mereka. Saya aja yang sebelumnya pernah makan disitu sempat mengira kalo mereka udah gak jualan lagi. Singkat cerita, makanlah kita disana. Tiga soto dan Tiga teh botol. Selesai makan, kita pergi dan gak lupa bilang terima kasih ke Penjual soto dan penjual teh botol. Si penjual soto menanggapi ucapan terima kasih kita. Tapi, si penjual teh botol menanggapi ucapan terima kasih kita agak sedikit berlebihan. Bukan berlebihan yang norak, tapi berlebihan yang didasari kegetiran dan kepahitan hidup. Dia bilang terima kasih ke setiap orang dari kita. Artinya, dia 3 kali ngucapin terima kasih sewaktu kita lewat di depan si penjual teh botol. Pertama ke Mamah. Dia bilang " Terima kasih yaa Bu ... Ucapan kedua dialamatkan ke Adek ... " Terima kasih Dek ... Dan yang terakhir dialamatkan ke saya " Terima kasih yaa Dek ... sambil mengelus pundak saya. Terenyuh ... sumpah. Raut wajah tua si Bapak dan Uban putih di kepalanya menyimpan berjuta cerita. Mungkin juga beban hidup yang buat dia terasa berat untuk dipikul, tapi dia tetap bertahan. Saya tau di kepalanya ada pikiran bila nanti dia digusur. Dia pasti gak ada daya apapun untuk mempertahankan tempat yang sudah bertahun tahun mungkin jadi sumber rejeki bagi dia dan keluarganya. Malu ... ternyata daya juang saya gak ada seujung kukunya si Bapak penjual teh botol. Saya yakin ada keadilan bagi si Bapak tadi dan orang orang yang bernasib sama. Paling tidak, kesulitan mereka akan diganjar dengan pahala dan dihapuskannya dosa.
Hari ini memang melelahkan, tapi paling tidak ada pelajaran yang bisa saya petik. Dan saya ingin membagi dengan siapapun yang membaca blog ini. Intinya sih cuma mo bilang berlapang dada dan berpikir positif aja. Coba melihat dengan sudut pandang yang berbeda, biar bisa sedikit bersyukur.
Sudah larut ... tapi mata malas terpejam. Biar saya merenung sebentar. Mungkin akan ada hikmah lain yang bisa saya petik. Agar pikiran tidak tumpul. Agar hati tidak tumpul.
Wednesday, January 30, 2008
Tuesday, November 6, 2007
Catatan Perasaan di Kala Hujan
Takdir ... banyak yang menganggap bahwa itu adalah sebaris garis lurus tanpa lengkung dan sudut dimana kita berjalan di atasnya. Pilihan adalah nihil, perubahan itu mustahil. Takdir sangat populer dengan kepastian dan keharusannya. Takdir dikenal tidak kompromi dan sangat pasti.
Hari ini hujan ... tiap tetes airnya membuatku merenung tentang takdir. Hembusan angin dingin membawa aku ke alam pikir untuk mencari satu kesimpulan. Sebuah hipotesa dari banyaknya teori yang diutarakan orang mengenai takdir. Heran ... mengapa lembab udara malah membuat aku ingin terawangi takdir? Mungkin perpaduan sejuk, gelap dan semilir sangat kondusif menghadirkan melankolis ke dalam kepalaku. Atau mungkin karena situasi diri akhir akhir ini yang terasa lepas dari pasti. Gantung ... di ayun oleh tali galau yang kian erat. Kucoba sekuat tenaga mencari harap, agar bisa terlepas dari galau. Tapi ... aku belum menemukan harap. Lelah juga lama lama ... dan aku pun terduduk hingga akhirnya rebah dan tertidur. Masih diikat oleh tali galau. Bahkan sekarang aku mulai diselimuti oleh kabut ragu. Atau mungkin itu hanyalah fatamorgana yang diciptakan oleh parasit putus asa yang perlahan namun pasti datang dan bersarang di hati juga pikiranku.
Masih hujan ... kelas pun tidak ada tanda tanda untuk bubar. Sang dosen masih terlihat semangat untuk berbicara di depan kelas sebagai moderator dari teman teman lain yang sedang presentasi. Banyak yang bertanya, walau menurutku topiknya tidak terlalu menarik. Bukan salah mereka, tetapi hasil undian yang ditulis di kertas, dimasukan ke dalam sedotan, diamsukan lagi ke dalam gelas kosong yang di atasnya ditutupi kertas yang dibolongi. Seperti arisan, kelompok itu mengambil kertas yang dilapisi sedotan itu untuk melihat tema mereka, dan itulah yang mereka dapat. Topik yang membosankan. Entah karena aku tidak terlalu suka atau memang aku tidak menyimak. Tapi yang pasti ada 1 orang teman yang sangat mencari perhatian dosen. Mencoba bermain aman sepertinya. Aku terdiam dan berpikir. Salah satu cara untuk merubah takdirkah? Karena dia itu mengulang mata kuliah yang ini. Takdir ... kenapa topik itu yang muncul di kepalaku? Seperti orang yang tidak bersyukur saja. Tapi apa salah kalau berkesah karena lelah?
Sudah sudah ... usaha adalah cara efektif untuk memanggil dan mengundang harap untuk datang. Semakin besar usaha, maka semakin besar harap. Agak berbanding lurus, bukannya pasti. Walaupun kemungkinan besarnya seperti itu. Namun tidak selalu. Pun, ada hal yang bisa menguatkan harap untuk makin cepat datang. Do'a. Sayang ... Tuhan saat ini sedang aku kebelakangkan. Suatu kebodohan terlalu tolol. Tapi ternyata aku bukan satu satunya orang yang melakukan kebodohan macam itu. Bukan tak ingin kembali, hanya saja ada malu dan sungkan menutupi hidayah dan cahaya Tuhan yang diperuntukkan pada hati.
Masih saja hujan. Ku ambil HP yang Aku selipkan di dalam kantong celana. Jam 8 kurang. Masih lama sekali kita akan dibubarkan. Di dalam kelas aku mulai tidak merasa nyaman. Bukan karena aku duduk di pojokan, sendirian dan diasingkan. Aku malah duduk di barisan tengah agak ke belakang, dan di apit oleh beberapa teman di kanan dan di kiri Ku. Namun, saat ini aku sedang ingin sendiri, tidak lebih. Berharap bisa mengadu kepada yang mau mendengar, namun sepertinya tidak ada.
Akhirnya kelas bubar. Hujan juga mulai reda. Aku mulai berpikir untuk menghubungi Ibu, karena Ibu sedang berada di rumah Bude, kakak Ibu. Ibu meminta aku untuk kesana untuk menjemput dia. Namun sewaktu Ibu menghubungi aku, percakapan terhenti. Baterai Ku habis. Dua buah HP yang aku miliki semuan baterainya habis. Apa ini juga bagian takdir? Atau hanya kecerobohan karena tidak memprediksikan situasi yang mungkin hadir. Hasilnya ketika aku menghubungi Bude, sepupuku yang mengangkat telefon Ku. Dia tidak marah, namun aku merasakan ada kekesalan karena baru menghubungi setelah sekian lama. Selain juga karena Ibu sudah pulang dengan Taksi seorang diri ke rumah yang jaraknya jauh dari rumah Bude.
Aku mencoba merubah takdir, namun sulit. Ataukah memang tidak bisa lagi diubah? Atau aku telah membuat pilihan salah? Ingin rasanya terbang ke angkasa dengan sayap merentang lebar. Seperti Malaikat. Namun, saat ini aku hanya merenung dan mencoba mencari privasi dalam sendiri. Khayal, tolong temani aku. Sepi, tolong lindungi aku. Sedih, kamu boleh lagi bertamu. Air mata, silahkan kau basahkan pipiku .... temani tetesan hujan yang mulai lagi menyapa bumi.
Hari ini hujan ... tiap tetes airnya membuatku merenung tentang takdir. Hembusan angin dingin membawa aku ke alam pikir untuk mencari satu kesimpulan. Sebuah hipotesa dari banyaknya teori yang diutarakan orang mengenai takdir. Heran ... mengapa lembab udara malah membuat aku ingin terawangi takdir? Mungkin perpaduan sejuk, gelap dan semilir sangat kondusif menghadirkan melankolis ke dalam kepalaku. Atau mungkin karena situasi diri akhir akhir ini yang terasa lepas dari pasti. Gantung ... di ayun oleh tali galau yang kian erat. Kucoba sekuat tenaga mencari harap, agar bisa terlepas dari galau. Tapi ... aku belum menemukan harap. Lelah juga lama lama ... dan aku pun terduduk hingga akhirnya rebah dan tertidur. Masih diikat oleh tali galau. Bahkan sekarang aku mulai diselimuti oleh kabut ragu. Atau mungkin itu hanyalah fatamorgana yang diciptakan oleh parasit putus asa yang perlahan namun pasti datang dan bersarang di hati juga pikiranku.
Masih hujan ... kelas pun tidak ada tanda tanda untuk bubar. Sang dosen masih terlihat semangat untuk berbicara di depan kelas sebagai moderator dari teman teman lain yang sedang presentasi. Banyak yang bertanya, walau menurutku topiknya tidak terlalu menarik. Bukan salah mereka, tetapi hasil undian yang ditulis di kertas, dimasukan ke dalam sedotan, diamsukan lagi ke dalam gelas kosong yang di atasnya ditutupi kertas yang dibolongi. Seperti arisan, kelompok itu mengambil kertas yang dilapisi sedotan itu untuk melihat tema mereka, dan itulah yang mereka dapat. Topik yang membosankan. Entah karena aku tidak terlalu suka atau memang aku tidak menyimak. Tapi yang pasti ada 1 orang teman yang sangat mencari perhatian dosen. Mencoba bermain aman sepertinya. Aku terdiam dan berpikir. Salah satu cara untuk merubah takdirkah? Karena dia itu mengulang mata kuliah yang ini. Takdir ... kenapa topik itu yang muncul di kepalaku? Seperti orang yang tidak bersyukur saja. Tapi apa salah kalau berkesah karena lelah?
Sudah sudah ... usaha adalah cara efektif untuk memanggil dan mengundang harap untuk datang. Semakin besar usaha, maka semakin besar harap. Agak berbanding lurus, bukannya pasti. Walaupun kemungkinan besarnya seperti itu. Namun tidak selalu. Pun, ada hal yang bisa menguatkan harap untuk makin cepat datang. Do'a. Sayang ... Tuhan saat ini sedang aku kebelakangkan. Suatu kebodohan terlalu tolol. Tapi ternyata aku bukan satu satunya orang yang melakukan kebodohan macam itu. Bukan tak ingin kembali, hanya saja ada malu dan sungkan menutupi hidayah dan cahaya Tuhan yang diperuntukkan pada hati.
Masih saja hujan. Ku ambil HP yang Aku selipkan di dalam kantong celana. Jam 8 kurang. Masih lama sekali kita akan dibubarkan. Di dalam kelas aku mulai tidak merasa nyaman. Bukan karena aku duduk di pojokan, sendirian dan diasingkan. Aku malah duduk di barisan tengah agak ke belakang, dan di apit oleh beberapa teman di kanan dan di kiri Ku. Namun, saat ini aku sedang ingin sendiri, tidak lebih. Berharap bisa mengadu kepada yang mau mendengar, namun sepertinya tidak ada.
Akhirnya kelas bubar. Hujan juga mulai reda. Aku mulai berpikir untuk menghubungi Ibu, karena Ibu sedang berada di rumah Bude, kakak Ibu. Ibu meminta aku untuk kesana untuk menjemput dia. Namun sewaktu Ibu menghubungi aku, percakapan terhenti. Baterai Ku habis. Dua buah HP yang aku miliki semuan baterainya habis. Apa ini juga bagian takdir? Atau hanya kecerobohan karena tidak memprediksikan situasi yang mungkin hadir. Hasilnya ketika aku menghubungi Bude, sepupuku yang mengangkat telefon Ku. Dia tidak marah, namun aku merasakan ada kekesalan karena baru menghubungi setelah sekian lama. Selain juga karena Ibu sudah pulang dengan Taksi seorang diri ke rumah yang jaraknya jauh dari rumah Bude.
Aku mencoba merubah takdir, namun sulit. Ataukah memang tidak bisa lagi diubah? Atau aku telah membuat pilihan salah? Ingin rasanya terbang ke angkasa dengan sayap merentang lebar. Seperti Malaikat. Namun, saat ini aku hanya merenung dan mencoba mencari privasi dalam sendiri. Khayal, tolong temani aku. Sepi, tolong lindungi aku. Sedih, kamu boleh lagi bertamu. Air mata, silahkan kau basahkan pipiku .... temani tetesan hujan yang mulai lagi menyapa bumi.
Subscribe to:
Comments (Atom)